Jumat, 20 Agustus 2010

Penyebaran Demit di Tanah Jawa

Pendahuluan

Sastra daerah yang beraneka ragam mewarnai khazanah sastra nusantara dan merupakan alat penunjang untuk memperkaya kesusastraan Indonesia pada umumnya (baried, 1985: 87). sastra lisan sebagai salah satu ragam sastra daerah merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang ditengah- tengah masyarakat dan diwariskan secara turun menurun secara lisan sebagai milik bersama (rosmawati, 1990:1).

Kehidupan sastra lisan selalu mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat pendukungnyaada beberapa sastra lisan di Indonesia yang telah hilang sebelumnya sempat didokumentasikan. Sementara sebagian sastra lain yang masih bertahan, berada diambang kepunahan karena berbagai kendala yang dihadapinya oleh karena itu lah suatu usaha pelestarian sastra lisan dibiarkan terus tanpa ada usaha penelitian, sementara proses perubahan dan kepunahan secara lisan terus berlangsung, maka bersama dengan itu kekayaan budaya yang terkandung didalam sastra lisan akan punah pula.

Toli (1991:2) mengatakan bahwa pada masa sekarang dan yang akan datang, bentuk isi sastra lisan perlu diungkapkan untuk memperkaya khazanah kebudayaan bangsa Indonesia serta bermanfaaat bagi pembangunan bangsa Indonesia. Pengungkapan sastra lisan di Indonesia mempunyai keuntungan yaitu dapat memperlihatkan keaneka ragaman kekayaan budaya, juga dapat dipergunakan sebagai sarana untuk memahami antar suku bangsa di Indonesia melalui nilai-nilai yang terpantul dari sastra lisan itu. (dalam soeranto, 1986: 28-29) mengungkapkan bahwa salah satu penyebab yang banyak menimbulkan kesulitan yang bersifat kompleks dalam usaha membangun masyarakat Indonesia dewasa ini, ialah kurangnya pemahaman terhadap cara berpikir, cara menanggapi, cara merasa, dan cara mengutarakan pendapat dari suatu kelompok masyarakat tertentu. Maka sastra lisan sebagai sumber informasi kebudayaan sesuatu kelompok masyarakat tertentu perlu diteliti, dipelajari dan diperkenalkan kepada kelompok masyarakat lain.

Berkaitan dengan ini dari sebuah tradisi kelisanan yang popular adalah sebuah pembelajaran tentang folklore yang didalam pengertiannya adalah kata foklor berasal berasal dari ingris folklore yang terdiri atas kata folk dan lore. Kata folk berarti kolektif atau kebersamaan. Kata lore berarti tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Dengan demikian definisi folklore secara keseluruhan adalah tradisi kolektif sebuah bangsa yang disebarkan dalam bentuk lisan maupun gerak isyarat, sehingga tetap berkesinambungan dari generasi kegenerasi (Dananjaya, 1984:2).

Foklor meliputi dongeng, cerita, hikayat, kepahlawanan, adapt-istiadat,lagu , tata cara, kesusastraan, kesenian dan busana daerah. Masing-masing merupakan milik masyarakat tradisional secara kolektif.

Merujuk pada pembahasan makalah tentang tradisi lisan melalui rung folklore maka, makalah ini menjurus kepada folklore jawa, fungsi folklore jawa yang dilakukan oleh para ahli telah melahirkan beberapa ragam kesimpulan berbobot. Bentuk-bentuk folklore pun beraneka rupa. Dalam peradaban jawa terdapat dua subkultur yang mudah untuk dibedakan. Keduanya yaitu kultur Negara dan kultur desa. Orang jawa mengatakan, Negara mawa tata, desa mawa cara. Negara memakai aturan hokum formal, desa menggunakan aturan adapt tradisional. Negara dalam istilah kejawen mengacu pada territorial kota. Pendukung utama peradaban kota adalah istana atau keratin. Kebudayaan keratin dipublikasikan melalui abad atau cerita sejarah. Adapun tradisi pedesaan berupa dongeng, parikan, dan tutur lisan sebagai sarana penyebarannya. Dipandang dari sudut fenomenologis, baik sastra babad maupun cerita rakyat merupakan konstruksi dalam alam pikiran, tanpa perbedaan esensial. Pada pokoknya babad merupakan dokumentasi tertulis, sedangkan cerita rakyat termasuk sarana komunikasi lisan.

Dalam perkembangan selama berabad-abad, kebudayaan jawa telah mengalami proses yang saling mengaruhi antara kedua subkultur tersebut. Folklor jawa sesungguhnya merupakan produk dari proses sinkretisasi antara pelbagai unsur. Di antaranya karena pengaruh hinduisme, budhaisme dan ilam, yang membentuk sebuah alkulturasi kebudayaan. Proses tersebut amat menguntungkan bagi pembentukan identitas lokal.

Hakikat folklore merupakan identitas local yang terdapat dalam kehidupan masyarakt tradisional. Rasa memiliki terhadap tradisi yang sudah mengakar dan menyejarahkan menyebabkan emosi masing-masing warganya menjadi manunggal. Perasaan senasib dan seperjuangan terbentuk oleh karena identitas local sudah terlebih dahulu lahir.

Isi

Penyebaran Dhemit di Tanah Jawa

  1. Makhluk Halus

Kepercayaan terhadap kehidupan makhluk halus menyebar di berbagai wilayah tanah jawa. Orang jawa menjaga hubungan dengan makhluk halus. Bagi orang yang mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia makhluk halus itu biasa adanya dan bukan omong kosong.

Ada dua macam makhluk halus: pertama, makhluk halus ali yang memang diciptakan sebagai makhluk halus. Makhluk-makhluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai kedudukan tinggi seperti raja, ratu, menti. Sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja.

Kedua, makhluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh. Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam duniayang satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh beberapa macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Dunia ini terdapat beberapa lapis alam yang ditempati oleh bermacam-macam makhluk. Makhluk-makhluk tersebut, pada prinsipnya mengurusi alamnya masing-masing. Aktivitas mereka tidak bercampur dan setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Alam manusia mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain.

Warga alam yang lain mereka mempunyai badan cahaya atau secara populer dikenal sebagai makhluk halus. Alam-alam itu tidak ada hari terang benderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah di bawah sinar bulan dan bintang – bintang terang. Tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar Sang Hyang Bagaskara. Diantaranya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Merkayangan. Kehidupan di alam ini hampir sama seperti kehidupan didunia manusia, kecuali tidak adanya sinar terang seperti matahari. Dunia merkayangan sama seperti dunia manusia, misalnya membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama. Ada banyak mobil yang jenisnya sama di jalan- jalan, ada banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Mereka memiliki teknologi yang lebih canggih dari manusia, kota-kotanya lebih moderen ada pencakar langit, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dll. Ada juga hal-hal yang mistis di dunia merkayangan ini. Kadang- kadang bila perlu ada juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk melaksanakan pertunjukan, menghadiri upacara perkawinan, bekerja di pabrik atau keperluan lain. Manusia yang melakukan pekerjaan di dunia tersebut, dibayar dengan uang yang sah dan berlaku seperti mata uang di dunia manusia.

Siluman. Makhluk halus ini suka tinggal di daerah seperti di danau-danau, laut, samudera. Masyarakt siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka mempunyai raja dan ratu. Terdapat golongan aristokrat, pegawai-pegawai, prajurit , pembantu-pembantu. Mereka tinggal di kraton-kraton , rumah-rumah. Di yogyakarta atau jawa tengah, orang akan mendengar cerita tentang beberapa siluman laut yakni kanjeng Ratu Kidul, sangat berkuasa dan amat cantik. Ia tinggal di istana laut selatan. Di parang kusumo terkenal sebagai tempat panembahan senopati dan kanjeng Ratu Kidul, pada pertemuan itu, kanjeng ratu berjaji untuk melindungi semua raja dan kerajaan mataram. Ia mempunyai seorrang patih yang sakti yaitu Nyai Roro Kidul. Kerajaan laut selatan ini terhampar pantaidi pantai selatan jawa, dibeberapa tempat kerajaan ini mempunyai adipati. Seperti layaknya sebuah negeri di kerajaan laut selatan ini juga ada upacara, ritual dan mereka juga mempunyai angkatan perang.

Kajiman. Kajiman hampir sama dengan bangsa siluman, tetapi mereka itu tinggal di daerah- daerah pegunungan dan tempat- tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak jim.

Demit. Demit bertempat tinggal di daerah- daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu, mereka itu seperti manusia hanya bentuk badanya lebih kecil.

Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti merkayang, siluman, kajiman, dan demit masih ada lagi sebuah alam yang terjepit, dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia. Manusia yang dilakukannya. Hukuman itu bisa dijalani pada waktu masi hidup di dunia sesudah mati. Pemujaan atau kejawen bukanlah patung-patung batu, tetapi pada sembilan macam makhluk halus yang dipercaya bisa menolong menjadi kaya secara material. Kesembilan makhluk jahat itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatannya seperti:

- jaran penoreh = kuda yang kepalanya menoleh ke belakang.

- Kutuk lamur = sebangsa ikan, penglihatannya tidak terang

- Gemak melung = gemak, semacam burung yang berkicau

- Codot ngising = kelelawar berak

- Bulus jimbung = bulus yang besar

- Kandang bubrah = kandang yang rusak

- Umbel molor = ingus yang menetes

- Bajul putih = buaya putih

- Srengara nyarap = anjing menggigit

Urip iku mung mampir ngombe artinya hidup didunia ini hanya untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang bener lan pener. Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan jasa berhala di atas, mereka tentu sesudah kematian mereka mendapat hukuman dari sangkan paraning dumadi. Hukuman sesudah kehidupan dipercaya orang jawa sebagai hukuman yang amat berat, dan tidak ada penderitaan yang melebihi. Maka, setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya dengan selalu bersyuker kepada tuhan yang maha kuasa. Tuhan memerintahkan agar kita senantiasa melakukan perbuatan yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur dan suka menolong.

Serat kalatidha karya Ranggawarsita yang sangat terkenal menyatakan dilalah kersaning allah, begjane wong kang lali, isih begja kangeling lan waspada, ditafsirkan bahwa eling, berarti kita senantiasa dituntut untuk berbakti kepada tuhan dan selalu berzikir kepada tuhan, tidak melupakan dan tidak meninggalkan sembahyang. Waspada berarti mampu membedakan mana yang benar dan yang salah, artinya selalu wiweka. Hal ini penting agar kita tidak ikut gila, tergilas oleh arus zaman dan hanyut dalam situasi yang tidak menentu.

  1. Dhemit menghuni suatu tempat

Ada banyak versi tentang mitos penciptaan jawa, babad tanah jawi. Dalam suatu dongeng yang dikisahkan kepada saya oleh seorang dalang semar, pelawak wayang kulit yang lucu dan bijak, pahlawan kebudayaan jawa, yang berbicara kepada seorang pendeta Hindu- Muslim, orang pertama dari rangkaian panjang para kolonis Pulau jawa. Pendera itu berkata pada semar : ’ ceritakan kepadaku kisah pulau jawa sebelum ada manusia.’ Semarmengatakan bahwa pada masa itu seluruh pulau diliputi oleh hutan belantara kecuali sebidang kecil sawah tempat semar bertanam padi di kaki gunung merbabu. Tempat selama puluhan ribu tahun ia hidup bertani. ’ apakah kau ini?’ tanya pendeta itu keheranan. ’ apakah kau ii manusia? Umurmu bukan main panjangnya! Tentu kau bukan manusia. Bahkan nabi adam hanya berusia seribu tahun ! makhluk apakah ini? Akui saja yang sebenarnya!’

’Sebenarnya,’ kata semar,’ aku bukan manusia, aku adalah makhluk halus yang menjaga --- danyang --- pulau jawa. Aku adalah makhluk halus yang tertua, raja dan nenek moyang sekalian makhluk halus, dan melalui mereka ini menjadi raja seluruh manusia. ’ dalam nada yang berubah, ia melajutkan: ’ tetapi aku juga mempunyai sebuah pertanyan untukmu. Mengapa kau hancurkan negriku? Mengapa kau datang disini dan mengusir anak cucuku? Makhluk-makhluk halus itu, kalah oleh kekuatan spiritual dan ilumu agamamu, perlahan-lahan terpaksa melarikan diri kekawah-kawah gunung berapi atau kedasar laut selatan. Mengapa lakukan ini?’ pendeta itu menjawab, ’ aku telah di perintahkan oleh raja rum untuk mengisi pulau ini dengan umat manusia. Aku harus membabat hutan untuk dijadikan persawahan, membangun desa, dan memukimkan dua puluh ribu orang disini sebagai kolonis. Ini adalah titah rajaku dan kau tak bisa menghentikannya. Tetapi roh-roh yang mau melindungi kita akan tetap boleh tinggal dijawa ; aku akan menentukan apa yang harus kalian kerjaka.’ Ia melanjutkan pembicaran dengan menggambarkan garis-garis besar prespektif sejarah jawa sampai dengan zaman moderen dan menjelaskan peranan semar dalam proses itu, yakni sebagai penasehat spiritual dan pendukung magis bagi sekalian raja dan pangeran yang akan datang terjadi terus menjadi ketua sekalian danyang tanah jawa.

Dengan demikian, paling tidak dalam versi ini, dongen orang jawa dalam babad tanah jawi lebih mendekati apa yang disebut mitos kolonisasi dari pada mitos penciptaan, yang mengingatkan sejarah jawa yang terus menerus mengalami invasi orang-orang hindu, islam dan eropa, memang tidak mengherankan. Mbabad berarti membersikan sebidang hutan belantara unutk di ubah menjadi suatu desa lengkap dengan persawahan, membangun sebuah pulau kecil pemukiman manusia ditengah lautan makhluk halus yang menghuni hutan, walaupun istilah itu kini juga dipakai untuk persiapan umum mengelolah sawah. Yang harus dilakukan oleh orang dalam masa permulaan perputaran tanam padi setiap tahunnya. Lukisan yang disampaikan oleh mitos itu adalah gambaran masuknya para pendatang baru yang mendorng roh-roh jahat kegunung, tempat-tempat liar yang belum dijamah, dan lautan hindia, semetara bergerak dari utara keselatan , sambil mengatakan beberapa makhluk halus yang mau menolng sebagai pelindung mereka dan pemukiman mereka yang baru.

Cerita ini merupakan sebuah perkembangan tradisi lisan didalam masyarakat kita yang berwujud sebuah folklore yang tak lepas dari sebuah hakikat yang dinanmakan cerita lisan tersebut.

Penutup

Cerita lisan ini memberikan sebuah konsep yang sangat mendasar tentang sebuah penceritaan tentang Dhemit yang mulai dari sisi wataknya yang bermacam-macam hingga bentuk yang bermacam-macam juga, hal ini dapat dinyatakan sebagai fungsi yangsangat kentel oleh mitos yang berkembang pada saat ini, dan menjadi bahan cerita buat anak cucu sehingga bahwa adanya makhluk halus itu berawal dari sebuah penceritaan, tetapi banyak unsur-unsur religiusitasnya karena kita akan selalu diingatkan untuk beribadah kepada Tuhan karena adanya penceritaan watak dari beberapa makhluk halus atas sebuah penceritaan dengan beberapa versi di jawa ini.

Bermacam-macamnya makhluk hidup itulah kita biasa membuat suatu perkataan atau perbuatan jelek yang disangkut pautkan kedalam nama makhluk hidup karena perbuat yang tidak baik, bagaimanapun cerita dari rakyat seperti ini perlu banyak pendokumentasian yang akurat karena dengn seiring berjalannya waktu akan hilang dengan sendirinya karena pesatnya perkembangan zaman sepeti saat ini.


Daftar Pustaka

Dananjaya, 1984, Folklor Indonesia, grafitipres, jakarta.

Purwadi,2009, folklor jawa, pura pustaka, yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar